Hmmm,, begini, jujur saja, aku tuh merasa tidak nyaman dengan model toilet duduk seperti pada gambar di samping sebenarnya. Jika aku menemui toilet dengan model seperti itu, maka jika masih kuat untuk menahan BAB, aku akan lebih memilih mengurungkan niatku untuk BAB. Aku lebih suka segera mencari lokasi lainnya yang menyediakan toilet jongkok. Jika tengah berada di perjalanan misalnya, maka aku lebih suka mencari masjid-masjid atau pom bensin terdekat yang menyediakan fasilitas Toilet dengan WC jongkok.
Biarlah sebagian kawan atau orang-orang menyebutku kampungan atau ndeso dan tidak modern. Namun, memang pada dasarnya aku tidak bisa menggunakan toilet duduk dengan baik dan benar. Jadi, jika aku “terpaksa” BAB di sebuah toilet duduk, maka aku tetap akan “maksakan diri” untuk tetap jongkok
Saat ini, kebanyakan perkantoran-perkantoran dan fasilitas umum lebih suka memilih menggunakan toilet duduk daripada jongkok. Konon rata-rata, alasan paling utama memilih menggunakannya lebih dikarenakan “taste” modern dan lebih nge-Eropa (kebarat-baratan). Meskipun ada juga sih yang lebih memilih duduk dikarenakan yang bersangkutan merasa lebih nyaman saja.
Terlepas dari sisi kenyamanan dan modern, aku lebih melihat dari sudut pandang kesehatan saja. Jika kita BAB dalam posisi duduk, berapa orang coba yang menduduki tempat yang sama untuk membuang hajat. Berapa pula orang yang meninggalkan bakteri-bakteri tertentu di bibir toilet itu..? Itu sih pikiranku. Belum lagi jika model toilet yang dipakai adalah model toilet kering yang hanya menyediakan tissue saja tanpa adanya air untuk cebok.
Ternyata menurut penelitian, memang pilihanku untuk memilih toilet jongkok dan menghindari toilet duduk lebih tepat dan dibenarkan oleh penelitian itu.
Menurut Mulyadi Tedjapranata, dokter Klinik Medizone di Apartemen Taman Kemayoran, Jakarta, manfaat menggunakan toilet jongkok itu lebih banyak dibandingkan dengan toilet duduk secara kesehatan. Upaya pencegahan gangguan kemih misalnya, bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti misalnya antara lain adalah menghindari penggunaan kloset duduk.
Penggunaan kloset duduk dalam jangka panjang akan memperbesar risiko terjadi infeksi saluran kencing yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan berkemih. Pasalnya, permukaan toilet umumnya menjadi perantara penyebaran kuman. Penggunaan toilet jongkok justru lebih baik.
Pasalnya, ini akan membuat pengguna tidak bersentuhan langsung dengan permukaan toilet sehingga lebih higienis. “Apalagi, jika kerap memakai fasilitas toilet umum, toilet jongkok lebih baik,” ujar dia.
Tak hanya itu, penggunaan kloset duduk juga membuat otot saluran kencing bekerja lebih keras saat mengejang atau mengeluarkan urine. Dalam tahap ringan, infeksi saluran kemih biasanya ditandai dengan anyang-anyangan atau keluarnya air seni yang tak tuntas, sakit perut bagian bawah, serta rasa sakit saat akhir buang air kecil.
Kondisi ini tentu mengganggu aktivitas kita. Bahkan, kalau dibiarkan berlarut, ini bisa menimbulkan infeksi pada saluran kencing, gangguan psikososial seperti depresi dan gangguan tidur.
Nah, sekarang gimana menutu kalian?
Tambahan pertanyaan, gimana sih cara BAB yang baik dan benar di toilet duduk?
From : Ahmed Fikreatif
0 bacot :
Posting Komentar